Feeds:
Posts
Comments

Dari terendah hingga tingkat tinggi

Seringkali kita merasa telah melakukan yang terbaik ketika berada di kampus. Telah mengikuti banyak kegiatan, aktif di mana-mana, menjadi ketua di lembaga, dsb. Namun apakah semua itu telah cukup untuk membuktikan bahwa potensi diri ini telah terangkat?

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang penyakit yang menimpa mahasiswa semasa menuntut ilmu. Penyakit-panyakit ini sekaligus bisa menjadi penanda, sejauh mana kita melakukan kesalahan, sekaligus sebagai penanda apakah potensi kita terangkat pada arah yang benar?

Namun ingat, Penjelasan ini sebenarnya bukanlah penjelasan yang memiliki dasar psikologis atau filsafat dari tokoh-tokoh penting dunia. Penjelasan ini hanyalah berdasarkan pengamatan penulis semata, jadi kalo salah? Ya salahin yang diamatin penulis (bukan penulisnya :P ).

1. Malas-malasan

Ini merupakan penyakit tingkat terendah di hirarki mahasiswa. Mahasiswa yang terkena penyakit ini cenderung pasif dan enggan melakukan sesuatu. Boro-boro mau menerima suatu tantangan, buat melunasi kewajibannya pun udah ogah-ogahan. Intinya, dia tidak memiliki passion.

Ciri pertama dari golongan ini adalah pribadi yang suka mencari alasan dan seringkali memiliki tingkat kepercayadirian yang rendah, terutama bila dihadapkan pada suatu keadaan formal yang menjadikan dia sebagai pusat perhatian.

Tapi tidak semua “malas” ini merupakan sebuah penyakit. Kurangnya minat atau berhadapan pada suatu kondisi tak ideal seringkali menjadi penyebab utama. Seorang pejuang/aktivis/professional yang handal dan bersemangat apabila dihadapkan pada kondisi organisasi yang tak apresiatif bisa jadi membuat dia enggan untuk berkarya. Namun akan menjadi sebuah nilai tambah bila dia malah berjuang untuk mengubah keadaan tersebut. Mental itu yang seharusnya dimiliki.

*Btw, sepertinya saya masih merupakan penderita akut dari penyakit ini.

2. Pencari pengakuan

Penyakit ini merupakan penyakit tingkat medium. Mahasiswa yang dilanda penyakit ini telah melewati tahap penyakit pertama, dia telah memiliki passion untuk memperjuangkan sesuatu. Namun, sayangnya passion tersebut terkadang hanya emosi sesaat (apabila dia belum sepenuhnya melewati penyakit tahap satu).

Salah satu ciri dari penderitanya, utamanya adalah suka membicarakan tentang diri sendiri supaya orang lain dapat membuat citra tentang dirinya berdasarkan apa yang diceritakannya, agar orang lain mengakui bahwa dirinya orang yang hebat dan berprinsip.

Namun, bila penderita tidak mau dibilang pencari pengakuan, terkadang penderita mencari cara lain selain dengan menceritakan kelebihan diri sendiri. Semisal dengan mencoba tampil cemerlang walaupun hingga harus menyikut teman kanan-kirinya. Ato mungkin juga dengan melebih-lebihkan apa yang dikuasainya. Ketika teman-temannya tak mengerti mengenai otomotif misalnya, dia malah akan menggembar-gemborkan seluk beluk tentang otomotif kepada teman-temannya. Untuk apa? Agar dia diakui sebagai orang yang hebat (atau mungkin sok hebat?).

Ada satu hal yang perlu diketahui tentang penyakit ini. Suatu penyakit pasti memiliki latar belakang kejadian. Untuk penyakit ini, bisa jadi berasal dari golongan orang-orang yang masa lalunya diremehkan, atau dikucilkan. Sehingga di dalam dirinya terdapat sebuah emosi berontak untuk mempertahankan harga dirinya. Ketika dia dihadapkan suatu keadaan yang menguntungkan, dia malah melebih-lebihkan dirinya sendiri. Padahal bila dilihat dari latar belakangnya, di dalam dia sendiri merupakan pribadi yang rapuh. Mengumbar kelebihan merupakan sarana untuk menutupi kerapuhan di dalam dirinya. (kalo dalam bahasa psikologis = narsisme)

*Anyway, mungkin sepertinya saya juga termasuk dalam penderita penyakit ini.

3. Arogan

Ini merupakan tingkat teratas dari penyakit mahasiswa. Penderita penyakit ini merupakan pribadi yang telah melewati penyakit satu dan penyakit tingkat dua. Pribadi ini seringkali dicirikan dengan orang yang seenaknya sendiri tanpa mendengarkan masukan dari orang lain. Atau lebih parahnya tidak menghargai orang lain sebagaimana mestinya.

Penderita ini bila diibaratkan pada pemain bola, dia adalah striker sempurna yang mencetak banyak gol untuk clubnya. Di sekitarnya adalah pemain-pemain yang biasa-biasa saja. Striker ini telah memiliki skill dan kekuatan, memiliki kepandaian, memiliki passion untuk maju, memiliki ketahanan terhadap tekanan, dsb. Namun, karena dia merasa telah banyak berjuang, pendapat dari pemain-pemain lainnya dianggap sebagai angin lalu, karena teman-temannya tidak memiliki perjuangan yang sama dengan dirinya dan terutama teman-temannya tidak memiliki keahlian setara dengan dirinya.

Ego yang dibangun oleh penderita ini cukup parah. Bisa juga dibilang sebagai sombong. Namun sombong yang dimaksud disini berbeda dengan penderita penyakit dua (pencari pengakuan). Perbedaan itu dapat diilustrasikan seperti pemain bola di atas. Ada tokoh tambahan yaitu pemain belakang yang berkemampuan pas-pasan. Karena kemampuannya pas-pasan, dia sering menggembar-gemborkan pada media tentang usahanya menghalau serangan lawan, walaupun orang berfikir halauan tersebut tidak signifikan dibandingkan peran sang kiper. Orang pasti bisa berfikir bahwa pemain belakang ini hanya mencari popularitas, tidak diimbangi dengan aksi yang memadai. Sedangkan untuk sang striker, tanpa berbicara pada media pun dia telah dianggap sebagai penyelamat club sekaligus pemain berbakat. Striker ini hanya bermasalah ketika pemain-pemain sebayanya mencoba memberi saran dan masukan kepadanya.

Untuk kejadian nyatanya? Saya pernah mengikuti sebuah kuliah yang dosennya cukup strict (kata beliau demi kebaikan mahasiswanya). Setiap ada yang terlambat, pasti diomeli oleh beliau. Suatu kali, ada seorang aktivis kampus yang ahli berdebat, beragumentasi, dan blablabla datang terlambat. Ketika diomeli oleh sang dosen (yang kebetulan seorang perempuan), dia malah mendebat dengan suara yang lebih tinggi dari dosen hingga seisi kelas mengelus-ngelus dada, sambil bertanya, inikah aktivis kampus kita? Dimana etikanya?

*eh, mungkin saya juga masuk kategori penyakit ini :-(

***

Beberapa klasifikasi tersebut sekali lagi saya ingatkan bukanlah klasifikasi mahasiswa pada umumnya, namun adalah klasifikasi penyakit mahasiswa yang seringkali terjadi. Dan uniknya, seringkali penyakit-penyakit tersebut terjadi secara berurutan. Awalnya malas, kemudian mencoba aktif, namun malah hiperaktif dan narsis. Setelah jago, malah menjadi sombong.

Kalau anda memang seorang yang benar-benar sukses, tanpa anda ceritakan tentang diri anda pun orang lain akan mengakui kehebatan anda. Hal ini terjadi karena anda dapat memegang komitmen anda, dan untuk memegang komitmen, dibutuhkan perjuangan melawan rasa malas yang luar biasa susahnya. Dan akhirnya, ketika pengakuan orang berdatangan, masih dapatkah anda menerima kritik dan saran dari orang di sekitar anda?

Pernahkah anda perhatikan?

Cobalah anda menyanyikan lagu yang sedang hits ketika anda bersama dengan teman-teman anda, entah ketika sedang bekerja, bermain, belajar, dan sebagainya,. Nyanyikanlah lagu tersebut berulang-ulang dengan penuh PERCAYA DIRI dan penghayatan.

Coba perhatikan. Terkadang setelah anda bernyanyi, salah seorang teman anda akan ikut menyanyi lagu yang anda nyanyikan. Entah dia menyanyikan dari awal, ataupun sekedar meneruskan lagu yang anda nyanyikan.

Pernahkah anda perhatikan?

Ketika anda mengendarai sepeda motor dan berhenti pada lampu merah, anda tentu saja diwajibkan untuk berhenti di belakang garis pemberhentian untuk menunggu lampu hijau.

Namun coba anda perhatikan, sekalinya anda mencoba menerobos garis tersebut, dan menunggu lampu hijau di depan garis pemberhentian, maka banyak pengendara motor lain yang akan mengikuti anda, menerobos garis pemberhentian dan berhenti di belakang maupun di samping anda.

Padahal sebelum anda menerobos, semua pengendara tetap berada di belakang garis pemberhentian.


***

Percaya atau tidak, seringkali fenomena di atas terjadi dengan sendirinya.

Fenomena itu merupakan bukti bahwa cukup dengan percaya diri, maka anda dapat membuat orang lain mengikuti anda, entah anda benar maupun salah.

Tentu saja hal itu dapat terjadi. Dengan bersikap percaya diri, secara tidak langsung anda telah meyakinkan orang lain untuk percaya kepada anda. Dengan bersikap percaya diri, secara tak langsung anda telah menunjukkan kekuatan anda kepada orang lain.

Namun bagaimana dengan sebaliknya?

Walaupun anda benar, bila anda tidak percaya diri, orang lain akan menganggap anda salah, karena mereka tidak percaya kepada anda.

“Bagaimana anda berharap orang lain percaya kepada anda? bila anda sendiri pun tidak percaya kepada diri anda sendiri?”

Bagaimana anda berharap orang lain percaya kepada anda? bila anda sendiri pun tidak percaya kepada diri anda sendiri?

***

Dengan bersikap percaya diri, mari kita tunjukkan kekuatan kita!

Ketika masih SD saya dan teman-teman saya sering ditanya mengenai cita-cita, kami pun menjawab sekenanya. Saya menjawab ingi menjadi presiden, ada yang ingin mejadi dokter, ada yang ingin menjadi polisi, dan sebagainya. Semua menjawab dengan cita-cita yang tinggi.

Yang jelas,semenjak kecil saya tidak mendengar ada seorang orang yang sedari kecil bercita-cita menjadi tukang tambal ban, atau kuli bangunan, atau pembantu, atau pekerjaan yang sejajar dengan itu.

Beranjak SMP, hanya beberapa teman saja yang mencoba untuk melanjutkan ke SMP negeri, kebanyakan hanya pasrah pada SMP swasta di pinggir kota yang notabenenya sekolah pinggiran. Beberapa teman SD yang kini satu SMP kerap berjalan beriringan bersama saya. Ketika ditanya mengenai ingin apa setelah SMP, teman-teman saya pun menjawab dengan semangat, ada yang ingin ke SMK karena tertarik dengan otomotif, ada pula yang ingin melanjutkan ke SMA favorit, sama seperti saya. Bahkan kami sempat berjanji untuk saling berlomba menuju SMA favorit tersebut.

Saat menuju SMA tiba, rupanya kebanyakan teman saya melanjutkan di  SMA swasta yang berada di pinggir kota. Sesekali saya bertemu mereka. Banyak dari mereka yang masih memiliki senyum akan harapan, namun ada pula yang dari wajahnya sudah terlihat pasrah. Teman-teman SD saya bahkan ada pula yang tidak melanjutkan ke SMA, dia menganggur. Bahkan ada pula yang terlibat  kasus narkoba dan kriminalitas. (saya pun menghela nafas)

Selepas SMA, menjelang berangkat ke bandung, saya sempat bertemu lagi dengan teman-teman lama saya. Dan…. kebanyakan dari mereka tidak tahu mau kemana setelah SMA. Kebanyakan mencoba membantu orang tua bekerja. Ada pula yang telah menikah di usia belia. Ada pula yang masih menganggur. Banyak yang tidak berani melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi karena takut akan biaya serta persaingan.

***

Entah ini potret degradasi impian yang terjadi di setiap anak Indonesia ataukah hanya terjadi pada teman-teman saya. Tawa harapan dan cita-cita yang telah dipupuk sejak kecil lama-lama semakin menipis digerus oleh himpitan ekonomi. Cita-cita yang terucap di masa kecil hanyalah sebuah kenangan indah di masa kecil yang hanya membuat simpulan senyum, tidak lebih.

Mengapa hal ini bisa terjadi pada bangsa ini?

Kasih Sayang Ibu

Suatu hari,ada seorang ibu dari seorang eksekutif muda (eksmud) ulang tahun yg ke 60 th,karena terlalu sibuk nya, sang eksmud sampai tidak sempat mendatangi IBU nya untuk mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN IBU” .. dan akhir nya dia pun membeli bunga di sebuah toko bunga di jakarta dan kemudian mengirimkan bunga itu ke rumah ibu nya via pos.
Setelah membeli dan mengirimkan bunga tadi,sang eksmud keluar dari toko tersebut dan bertemu dengan anak kecil yang sedang menangis di depan toko.

Eksmud : de` kamu nangis kenapa??
anak kecil : aku mau beli bunga buat ibu aku,tapi uang aku kurang (sembari nunjukin duit nya yang receh-an)

Lalu eksmud itu masuk lagi ke toko bunga dan membelikan si anak kecil itu bunga .. bunga mawar tepatnya..
si anak kecil yang menangis tadi,mendadak sumringah..lalu anak kecil tersebut mengajak sang eksmud untuk menemui ibu nya…
dan alangkah terkejutnya…ternyata si eksmud tsb diajak ke kuburan ibu nya (sebelumnya sang eksmud mengira dia akan diajak ke rumah/melihat ibunda anak kecil itu masih hidup)

anak kecil: mama,mama…coba tebak aku bawa apa (dia bilang seperti itu di depan nisan ibunya)..aku bawa-in bunga mawar kesukaan mama…selamat hari ulang tahun yah mah…semoga mama di surga slalu bahagia disamping malaikat..

Alangkah terkejutnya sang eksmud….hampir menitikkan air mata .. kemudian tiba-tiba sang eksmud teringat akan ibundanya, yang mana tidak pernah dia pedulikan lagi..Dia sadar, selama ini dia lebih mementingkan pekerjaan/kesibukannya sendiri…

lalu sang eksmud pun pulang ke rumah ibunda nya…mengetuk pintu…lalu menangis bersimpuh di pangkuan ibunya..

(Cerita ini saya mendapatkan dari sebuah forum dunia maya dengan beberapa perubahan, begitu juga videonya. Terus terang saya menangis setelah membaca ini beserta melihat videonya. Video ini juga sempat masuk di Trans pada pagi ini)

Perfeksionis

Seringkali ketika saya memiliki seorang teman yang perfeksionis, saya mendapati kenyataan bahwa dia menjadi seorang yang menyebalkan. Bukan hanya saya yang berfikiran seperti itu, namun teman-teman saya juga banyak yang beranggapan hal yang sama.

Si perfeksionis terkadang menjadi manja karena segala permintaannya harus dituruti. Si perfeksionis seringkali suka membantah pembicaraan orang lain walaupun sekedar hanya untuk mengkoreksi kesalahan kata. Si perfeksionis tak jarang memarahi teman-temannya karena tugas kelompok yang dikerjakan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Yang jelas si perfeksionis tidak akan membiarkan sebuah kesalahan sekecil apapun hadir pada di kehidupannya.

Namun, beberapa kali saya tersadarkan bahwa perfeksionis itu merupakan hal perlu.

(Alkisah, ketika terdapat sebuah negeri yang sedang melakukan peperangan dengan negeri lain. Negeri tersebut dalam keadaan terdesak, kemudian dengan terpaksa mengirimkan pesan kepada aliansinya untuk meminta bantuan militer. Pesan dikirim melalui kereta berkuda)

Namun terdapat sebuah masalah kecil, baut yang ukurannya kecil keadaannya agak longgar.

1. Sebuah baut dari sebuah roda kereta terlepas.

2. Karena baut terlepas, roda pun menjadi kendor, dan terlepas.

3. Roda terlepas, kuda penarik kereta tiba-tiba berhenti secara tiba-tiba (karena terlalu berat)

4. Pengemudi terlempar. Perjalanan terhenti. Pesan pun terlambat atau bahkan gagal disampaikan.

5. Pesan gagal disampaikan,  permintaan bantuan gagal.

6. Permintaan bantuan gagal = kekalahan bagi negeri tersebut

7. kekalahan = pembunuhan massal

Hal ini dapat dikatakan sebagai pembunuhan massal oleh karena longgarnya sebuah baut kecil.

***

Seperti efek bola salju.Sebuah masalah kecil dapat berubah menjadi masalah besar bila dibiarkan terus-menerus. Kecerobohan pada seorang penjaga palang kereta api dapat menyebabkan kecelakaan ratusan jiwa penumpang. Setitik karat pada pipa penyaluran gas dapat menyebabkan kebocoran pada pipa dan menyebabkan ledakkan besar yang membahayakan penduduk. Dan masih banyak lagi fenomena-fenomena pentingnya sebuah perfeksionisme dalam segala kasus.

Mungkin ada satu hal yang perlu diperhatikan mengenai perfeksionisme. Perfeksionisme itu sendiri merupakan sebuah keharusan bagi setiap jengkal kehidupan. Namun yang menjadi masalah bukanlah perfeksionisme itu sendiri, tetapi adalah bagaimana mengekspresikan perfeksionisme tersebut.

Apakah dengan memarahi orang lain , apakah dengan memanja, atau apakah dengan menegur orang lain dan mengajak orang lain tersebut memperbaiki segala kesalahan dengan baik-baik.

Itu lah yang perlu kita renungkan. :)

My lovely jurney

Seringkali ketika pergi kampung halaman di surabaya, saya lebih menyukai berangkat sendiri dari pada membawa teman. Bukannya saya autis, atau antisosial, tapi ketika saya berangkat sendiri dari Bandung-Surabaya, seringkali saya mendapatkan pengalaman tak terduga dari orang-orang sebangku saya yang baru saya kenal

1. Sebangku dengan pengguna narkoba (umur sekitar 27 tahun). Dia mengaku baru saja mengalami OD (over dosis) hingga hampir meninggal. Mengenal obat-obatan sejak SMP dari teman-teman mahasiswa hukum (ha?) sebuah universitas swasta di jakarta. Sejak kecil untuk mencari uang guna membeli narkoba (sekitar 100-150rb per gram–> biasa habis sekitar 1-2 hari) dia seringkali bekerja serabutan.

Walaupun saya tahu bahwa ‘ngobat’ itu tidak baik, terusterang saja saya melihat hikmah produktivitas di sini (melihat masa lalunya), seorang anak yang mampu produktif di usia sekolah tanpa ‘kehilangan’ sekolahnya. 150ribu per hari oleh anak kecil! Yang jelas dia bilang dia tidak mencuri, mencopet, apalagi merampok. Dia berjualan mulai dari koran hingga menggunakan even-even tertentu untuk meningkatkan penjualan.

Dia baik. Amat baik malah. Sering menraktir saya minum di perjalanan (tentu saya tahu, bahwa minuman tersebut tidak diracuni). Sempat menawari saya rokok (tentu saja saya tolak, orang saya tidak merokok). Dan ketika menerima telpon dari ortunya, suaranya amat keras, hingga orang satu bus menoleh ke bangku kami semua.

Saya hanya menunduk, entah merasa beruntung ataukah merasa buntung.

2. Sebangku dengan seorang pengusaha konveksi dari kota kembang.
Di sini yang jadi perhatian bukanlah usaha konveks konveksinya, tapi kehidupannya. Dia penganut paham seks bebas. Semasa muda dia memang sering sekali melakukan hal XXX tersebut. Bahkan dengan sendirinya dia menceritakan teknik-teknik XXX kepada saya (saya hanya tertawa dalam hati)Namun yang mungkin menjadi nilai lebih dari dirinya adalah keuletannya, serta sikap gentlenya. Ketika mencari istri, dia tidak mempedulikan baik buruk fisik dari calon istrinya. Dan ketika sudah hendak menikah, dia pun juga telah berterus terang kepada istrinya perihal kebiasaannya dalam hal XXX di masa lajang.Dan calon istrinya pun menerima dia apa adanya.

Saya hanya membayangkan entah bagaimana reaksi istrinya saat itu.

3. Turis asing vs orang Indonesia
Suatu saat ketika naik kereta saya duduk sendiri, ketika itu beberapa turis naik untuk pergi ke Jogja. Saat itu kereta yang saya adalah kereta bisnis, yang mana sudah pasti banyak orang yang duduk selonjor di lantai.Saat kedatangan turis itulah saya melihat banyak perbedaan jelas antara orang Indonesia dengan bule. jarum telah menunjukkan di atas jam 9 malam, waktu untuk istirahat. Saya terus memperhatikan bule-bule itu.

Ketika saya menebak mereka akan tidur, rupanya saya salah. Mereka tiba-tiba membuka buku dan MEMBACA. Sedangkan orang-orang lokal, saya melihat banyak bergelimpangan di lantai kereta. Ada yang hanya beralaskan koran dan selimut kotor. Terlihat cukup berantakan. Mereka semua tidur, bahkan ada yang mengorok.

Tiba-tiba saya menjadi merasa malu sendiri. Di saat itu juga saya pun mengeluarkan buku dan membaca. Walaupun saya rasa timing untuk membaca buku kuliah tidak lah tepat (saat itu lebih tepatnya timing untuk membaca majalah atau novel), namun saya tetap membaca.

Memang terkadang rasa malu bisa menjadi senjata ampuh untuk menggenjot motivasi

Dan kereta pun berjalan terus hingga menuju jogjakarta. Hingga kereta tiba di jogjakarta, walaupun terlambat sekitar 30 menit.

***

Yang pasti, setiap orang pasti memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Setiap orang memiliki masa lalu dan dan harapan masa depan masing-masing. Tinggal bagaimana bijaknya kita dalam memahaminya.

Humor Division

Dalam sejarah, tercatatlah nama cak durasim sebagai salah seorang seniman besar bangsa. Beliau merupakan seorang seniman ludruk dari jawa timur (hingga kini nama beliau dijadikan sebuah gedung kesenian di Surabaya). Konon, di saat indonesia berada dalam penjajahan jepang, cak durasim cukup sering diundang oleh para petinggi tentara jepang untuk menghibur mereka. Cak durasim menyuguhkan pertunjukan ludruk berbalut kejenakaan yang penuh dengan sindiran terhadap penjajahan jepang.

Di kala itu tentara jepang tidak menyadari bahwa tiap mereka menyaksikan ludruk, saat itu juga mereka selalu disindir dengan tanpa sepengetahuan mereka (tentu saja mereka tidak tahu, mereka tidak bisa berbahasa jawa).

Suguhan humor dari cak durasim semakin lama semakin berani.

Hingga suatu saat, entah bagaimana ceritanya, Jepang akhirnya mengetahui segala maksud dari pertunjukan ludruk cak durasim. Cak durasim ditangkap, dan mendapatkan siksaan yang mungkin tak dapat
kita bayangkan. (ingat, penjajahan jepang terkenal dengan kejamnya siksaan yang diperlakukan untuk para musuh jepang)

Hingga kini, cak durasim termasuk sebagai seorang seniman sekaligus pahlawan bangsa. Walaupun jalan perjuangannya bukan melalui pedang ataupun senapan, tapi dalam bentuk humor.

***

Untuk saat ini, keadaan bisa saja berubah. Seringkali orang-orang yang humoris dianggap sebagai orang yang tak dapat serius. tak dapat melihat sikon. Dan mungkin kurang berwibawa.

Namun satu cerita di atas cukup menggambarkan betapa humor adalah sesuatu yang tak dapat diremehkan. Humor bahkan dapat menjadi sebuah jalan perjuangan bagi bebeberapa orang seperti cak durasim.

Suatu saat saya pernah mendengar sebuah pepatah:
“Sesekali ketika kita menjadi orang yang paling menderita di muka bumi, satu-satunya hiburan untuk kita adalah menertawakan penderitaan kita sendiri!”

“Sesekali ketika kita menjadi orang yang paling menderita di muka bumi, satu-satunya hiburan untuk kita adalah menertawakan penderitaan kita sendiri!”



Humor pun juga cukup menjadi senjata ampuh untuk meredam stress.

Ada sebuah kisah unik, ketika persidangan di Majelis Konstitusi RI dalam kasus Bibit-candra,Moh Mahfud sebagai pemimpin sidang seringkali melemparkan humor segar di tengah-tengah persidangan yang serius. Tanpa mengurangi esensi dari sidang itu sendiri, beliau menepis anggapan tidak serius selama memimpin sidang. “justru dengan humor itu, persidangan dapat berlangsung tenang. Masyarakat tidak kebawa stress. Dan Yang penting, tidak terjadi persidangan yang ricuh”

***

Tentu saja, humor yang dimaksud pada cerita-cerita di atas adalah humor-humor cerdas dan memiliki tujuan,bukan hanya sekedar humor kacangan, apalagi humor-humor jorok.
Humor yang cerdas mungkin dapat menjadi manifestasi sebuah jalan pikiran yang dingin walaupun berhadapan situasi yang menekan.

Mungkin, setiap organisasi perlu mengadakan divisi humor, untuk meredam stress dari para pengurus organisasi. Terlebih, menjadi usaha pencerdasan yang terselubung. =D

BRAVO CAK DURASIM!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.