Dari terendah hingga tingkat tinggi
Seringkali kita merasa telah melakukan yang terbaik ketika berada di kampus. Telah mengikuti banyak kegiatan, aktif di mana-mana, menjadi ketua di lembaga, dsb. Namun apakah semua itu telah cukup untuk membuktikan bahwa potensi diri ini telah terangkat?
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang penyakit yang menimpa mahasiswa semasa menuntut ilmu. Penyakit-panyakit ini sekaligus bisa menjadi penanda, sejauh mana kita melakukan kesalahan, sekaligus sebagai penanda apakah potensi kita terangkat pada arah yang benar?
Namun ingat, Penjelasan ini sebenarnya bukanlah penjelasan yang memiliki dasar psikologis atau filsafat dari tokoh-tokoh penting dunia. Penjelasan ini hanyalah berdasarkan pengamatan penulis semata, jadi kalo salah? Ya salahin yang diamatin penulis (bukan penulisnya
).
1. Malas-malasan
Ini merupakan penyakit tingkat terendah di hirarki mahasiswa. Mahasiswa yang terkena penyakit ini cenderung pasif dan enggan melakukan sesuatu. Boro-boro mau menerima suatu tantangan, buat melunasi kewajibannya pun udah ogah-ogahan. Intinya, dia tidak memiliki passion.
Ciri pertama dari golongan ini adalah pribadi yang suka mencari alasan dan seringkali memiliki tingkat kepercayadirian yang rendah, terutama bila dihadapkan pada suatu keadaan formal yang menjadikan dia sebagai pusat perhatian.
Tapi tidak semua “malas” ini merupakan sebuah penyakit. Kurangnya minat atau berhadapan pada suatu kondisi tak ideal seringkali menjadi penyebab utama. Seorang pejuang/aktivis/professional yang handal dan bersemangat apabila dihadapkan pada kondisi organisasi yang tak apresiatif bisa jadi membuat dia enggan untuk berkarya. Namun akan menjadi sebuah nilai tambah bila dia malah berjuang untuk mengubah keadaan tersebut. Mental itu yang seharusnya dimiliki.
*Btw, sepertinya saya masih merupakan penderita akut dari penyakit ini.
2. Pencari pengakuan
Penyakit ini merupakan penyakit tingkat medium. Mahasiswa yang dilanda penyakit ini telah melewati tahap penyakit pertama, dia telah memiliki passion untuk memperjuangkan sesuatu. Namun, sayangnya passion tersebut terkadang hanya emosi sesaat (apabila dia belum sepenuhnya melewati penyakit tahap satu).
Salah satu ciri dari penderitanya, utamanya adalah suka membicarakan tentang diri sendiri supaya orang lain dapat membuat citra tentang dirinya berdasarkan apa yang diceritakannya, agar orang lain mengakui bahwa dirinya orang yang hebat dan berprinsip.
Namun, bila penderita tidak mau dibilang pencari pengakuan, terkadang penderita mencari cara lain selain dengan menceritakan kelebihan diri sendiri. Semisal dengan mencoba tampil cemerlang walaupun hingga harus menyikut teman kanan-kirinya. Ato mungkin juga dengan melebih-lebihkan apa yang dikuasainya. Ketika teman-temannya tak mengerti mengenai otomotif misalnya, dia malah akan menggembar-gemborkan seluk beluk tentang otomotif kepada teman-temannya. Untuk apa? Agar dia diakui sebagai orang yang hebat (atau mungkin sok hebat?).
Ada satu hal yang perlu diketahui tentang penyakit ini. Suatu penyakit pasti memiliki latar belakang kejadian. Untuk penyakit ini, bisa jadi berasal dari golongan orang-orang yang masa lalunya diremehkan, atau dikucilkan. Sehingga di dalam dirinya terdapat sebuah emosi berontak untuk mempertahankan harga dirinya. Ketika dia dihadapkan suatu keadaan yang menguntungkan, dia malah melebih-lebihkan dirinya sendiri. Padahal bila dilihat dari latar belakangnya, di dalam dia sendiri merupakan pribadi yang rapuh. Mengumbar kelebihan merupakan sarana untuk menutupi kerapuhan di dalam dirinya. (kalo dalam bahasa psikologis = narsisme)
*Anyway, mungkin sepertinya saya juga termasuk dalam penderita penyakit ini.
3. Arogan
Ini merupakan tingkat teratas dari penyakit mahasiswa. Penderita penyakit ini merupakan pribadi yang telah melewati penyakit satu dan penyakit tingkat dua. Pribadi ini seringkali dicirikan dengan orang yang seenaknya sendiri tanpa mendengarkan masukan dari orang lain. Atau lebih parahnya tidak menghargai orang lain sebagaimana mestinya.
Penderita ini bila diibaratkan pada pemain bola, dia adalah striker sempurna yang mencetak banyak gol untuk clubnya. Di sekitarnya adalah pemain-pemain yang biasa-biasa saja. Striker ini telah memiliki skill dan kekuatan, memiliki kepandaian, memiliki passion untuk maju, memiliki ketahanan terhadap tekanan, dsb. Namun, karena dia merasa telah banyak berjuang, pendapat dari pemain-pemain lainnya dianggap sebagai angin lalu, karena teman-temannya tidak memiliki perjuangan yang sama dengan dirinya dan terutama teman-temannya tidak memiliki keahlian setara dengan dirinya.
Ego yang dibangun oleh penderita ini cukup parah. Bisa juga dibilang sebagai sombong. Namun sombong yang dimaksud disini berbeda dengan penderita penyakit dua (pencari pengakuan). Perbedaan itu dapat diilustrasikan seperti pemain bola di atas. Ada tokoh tambahan yaitu pemain belakang yang berkemampuan pas-pasan. Karena kemampuannya pas-pasan, dia sering menggembar-gemborkan pada media tentang usahanya menghalau serangan lawan, walaupun orang berfikir halauan tersebut tidak signifikan dibandingkan peran sang kiper. Orang pasti bisa berfikir bahwa pemain belakang ini hanya mencari popularitas, tidak diimbangi dengan aksi yang memadai. Sedangkan untuk sang striker, tanpa berbicara pada media pun dia telah dianggap sebagai penyelamat club sekaligus pemain berbakat. Striker ini hanya bermasalah ketika pemain-pemain sebayanya mencoba memberi saran dan masukan kepadanya.
Untuk kejadian nyatanya? Saya pernah mengikuti sebuah kuliah yang dosennya cukup strict (kata beliau demi kebaikan mahasiswanya). Setiap ada yang terlambat, pasti diomeli oleh beliau. Suatu kali, ada seorang aktivis kampus yang ahli berdebat, beragumentasi, dan blablabla datang terlambat. Ketika diomeli oleh sang dosen (yang kebetulan seorang perempuan), dia malah mendebat dengan suara yang lebih tinggi dari dosen hingga seisi kelas mengelus-ngelus dada, sambil bertanya, inikah aktivis kampus kita? Dimana etikanya?
*eh, mungkin saya juga masuk kategori penyakit ini
***
Beberapa klasifikasi tersebut sekali lagi saya ingatkan bukanlah klasifikasi mahasiswa pada umumnya, namun adalah klasifikasi penyakit mahasiswa yang seringkali terjadi. Dan uniknya, seringkali penyakit-penyakit tersebut terjadi secara berurutan. Awalnya malas, kemudian mencoba aktif, namun malah hiperaktif dan narsis. Setelah jago, malah menjadi sombong.
Kalau anda memang seorang yang benar-benar sukses, tanpa anda ceritakan tentang diri anda pun orang lain akan mengakui kehebatan anda. Hal ini terjadi karena anda dapat memegang komitmen anda, dan untuk memegang komitmen, dibutuhkan perjuangan melawan rasa malas yang luar biasa susahnya. Dan akhirnya, ketika pengakuan orang berdatangan, masih dapatkah anda menerima kritik dan saran dari orang di sekitar anda?




