Feeds:
Posts
Comments

Deviant

Saya memiliki seorang kawan yang dikenal sangat ‘berbeda’ atau eksentrik semasa kuliah. Beliau memiliki IQ tertinggi pada fakultas saya saat itu, namun beliau seolah-olah memiliki dunia yang berbeda dari orang sekitarnya.

Suatu saat, ketika saya sedang di acara perayaan wisuda. Kawan saya datang pada saat perayaan tersebut. Di tengah acara, mendadak dia membuka kertas dan menunjukkan design proyek pribadi “Skateboard Terbang” kepada kawan-kawan yang ada disana. Tanpa ada basa-basi, tanpa mempedulikan momentum wisuda.

Semua pun hanya tercengang.

=====================================================

Alkisah pada suatu desa yang terpencil, tidak ada akses air yang memadai untuk konsumsi sehari-hari penduduk setempat. Penduduk menggunakan sungai sebagai sumber utama kehidupan desa. Meskipun terbatas, dapat dikatakan bahwa desa masih dapat hidup dengan nyaman.

Di tengah-tengah nyamannya kehidupan desa, dikenal seorang penduduk yang dibilang ‘aneh’.  Bagaimana tidak aneh, tidak ada angin dan tidak hujan, orang tersebut bekerja secara berbeda dari yang lain. Dia mencoba bekerja sendiri membangun saluran air untuk desanya.

Orang tersebut bekerja dengan cibiran yang ada dari penduduk. Untuk apa bersusah payah sendiri? Penduduk telah cukup dengan air yang tersedia pada saat itu, meskipun terkadang kekeringan membuat desa itu menderita. Pekerjaannya pun menjadi bahan tertawaan di desanya.

Namun, dengan keteguhan dan kebulatan tekat, orang tersebut membabat bukit seorang diri. Semua dilakukan dengan bermodalkan 20 pahat, 20 martil, 20 linggis, 20 belincong, plus cangkul yang dibeli dari hasil menjual perhiasan pribadi. Dari pekerjaan tersebut, dapat dibangun sebuah saluran air sepanjang 50 meter yang cukup untuk menghidupi desanya. Atas jerih payahnya, desa pun kemudian tersadar, dan kemudian ikut meneruskan pembangunan hingga dibangun 4.5 km air sungai mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat.

Dia lah Mak Eroh, lulusan SD asal Desa Pasirkadu, Tasikmalaya, yang saat itu telah berumur 50 tahun. Saya ulangi: berumur 50 tahun. Seorang diri memiliki visi yang berbeda, dan berkorban demi desanya. Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB

Jika orang seperti Mak Eroh hidup di sekitar kita, kita akan menjadi bagian dari masyarakat. Kita akan bilang kepada beliau: orang aneh.

=====================================================

Orang aneh, dimana bahasa sosiologisnya adalah deviant, merupakan orang yang memiliki jalan pikiran yang berbeda dari kebanyakan. Deviant seringkali membawa ide-ide baru yang berbeda dan radikal, hingga terkadang menjadi bahan tertawaan bagi orang di sekitarnya.

Salt-Flat-Mirror-638x300

Secara filosofis, deviant merupakan sebuah perbedaan pada sebuah komunitas. Perbedaan ini yang membuat perubahan dapat terjadi. Perbedaan ini yang dapat membuka sebuah jalan baru untuk hal yang berada di luar bayangan publik.

Seperti kisah Nicolaus Copernicus (1473 – 1543), dimana pada saat itu manusia berfikir bahwa bumi adalah pusat alam semesta (geosentris). Ditengah pemikiran tersebut, muncullah Nicolas Copernicus, yang secara berbeda membawa teori heliosentrisme. Teori ini menjelaskan bahwa pusat tata surya ada pada matahari, dan bumi pun mengitari matahari. Tentu saja teori baru ini memantik cibiran, tawaan, hingga kecaman dari masyarakat pada saat itu. Namun, seiringnya waktu, sejarah pun membuktikan, bahwa Nicolaus Copernicus lah orang yang membuka tabir ilmu astronomi ke level yang lebih baik.

Berkaca dari Copernicus dan Mak Eroh, kita dapat melihat satu hal yang pasti dari para deviant: orang-orang tersebut selalu mengawalinya dengan Ide Baru. Ide ini lah yang menjadi gunjingan dan candaan para masyarakat mainstream, dimana pikirannya masih berkutat pada pikiran konvensional. Bahasa awamnya: pikiran mereka masih belum nyampe.

Sebutkan lah Honda, dengan idenya membuat sepeda yang memiliki motor. Sebutkan juga Gadjah Mada, dengan idenya untuk menyatukan nusantara melalui sumpah palapa. Sebutkan juga,  Alexander The Great, dengan idenya untuk membuat imperium terbesar dengan Makedonia sebagai pusatnya. Hingga seorang Nabi, dengan idenya (lebih tepatnya wahyu), secara berbeda akan menjadi bahan cibiran, tawaan, dan kecaman oleh manusia pada zamannya.

Mereka lah orang-orang yang berbeda di masanya, namun dapat merubah dunia. Mereka lah orang-orang yang berani berfikir berbeda, berani berkata berbeda, dan berani bertindak berbeda. Mereka memulai semuanya dari sebuah ide gila, dan mereka menyelesaikan kegilaan itu semua hingga menjadi masterpiece sejarah.

========================================================

Sekarang, masihkah kita menertawakan sebuah ide?

Untuk kawan saya, melalui tulisan ini saya katakan, saya salut kepada anda. Terima kasih telah menjadi inspirasi untuk saya.

Beautiful Mind

Beberapa waktu lalu, saya sempat bertemu dengan seorang pengusaha tambang yang memiliki latar belakang kedokteran. Dua dunia yang sangat berbeda. Ketika itu sempat muncul pertanyaan dari salah seorang rekan, “Bagaimana Anda bisa mendalami dunia pertambangan? Anda kan dokter?”.

Jawab beliau, “Hingga sekarang, Saya tetap menggunakan dasar keilmuan kedokteran dalam menjalankan bisnis tambang ini”.  Bagaimana bisa? Pikiran kami bertanya-tanya.

Dalam ilmu kedokteran, setiap ada pasien darurat, harus ditreatment sedemikian rupa dulu, paling tidak supaya pasien tersebut bisa bertahan hidup. Baru nanti pasien itu kita periksa. Jangan sampai, ada pasien darurat datang, kita mencoba mendiagnosisnya dulu,nanti keburu pasien itu meninggal…”. Begitu juga dengan tambang, “ketika ada masalah pada pertambangan, jalankan dulu bisnis operasinya, jangan sampai berhenti. Sambil lalu kita bisa menyelesaikan masalah di dalam pertambangan ini..” Begitu pungkasnya.

Sebuah alur berfikir yang cukup logis untuk menjembatani dua dunia yang berbeda. Dalam realitanya, pengusaha tersebut memang bisa menjalankan bisnisnya dengan aman.

Dulu, saya sempat terlibat dalam proyek pembangunan sebuah pabrik di Sumatera, dimana investornya adalah sebuah perusahaan ternama di Indonesia. Saat itu, kami berhubungan dengan salah seorang Chief Financial Officer (CFO) muda yang dikenal sangat kritis. Saat itu kami sangat kagum dan sekaligus bertanya-tanya. Proyek yang dijalankan saat itu merupakan proyek yang sangat berbau teknis, namun tanggung jawab ada pada seorang CFO muda, bahkan untuk tataran teknis. Anehnya, setiap apa saja informasi teknis yang diterangkan kepada beliau, beliau bisa nyambung dan bisa mengkritisi, yang anehnya lagi, pertanyaan itu sangat logis.

Saat itu kami berkesimpulan, sang CFO memang tidak tahu menahu soal teknis yang dibahas, namun beliau sangat tahu sekali, apa yang perlu ditanyakan pada informasi tersebut.

================================

Cara berpikir! Itulah sebuah mozaik yang menjadi seni dalam kehidupan manusia. Melalui cara berpikir, orang dapat langsung mengetahui pokok permasalahan tanpa harus mengarungi dulu semua informasi detail yang ada. Melalui cara berpikir, seni itulah yang dapat membedakan seorang yang pantas memimpin dan seorang yang pantas dipimpin.

intention-300x225

Pada masa keemasan kuis “Who Wants to Be Millionaire”, sempat terdapat diskusi yang saya baca pada sebuah buku. Seorang pengusaha besar diminta pendapatnya mengenai seorang pemenang kuis tersebut. “Berapa uang yang Anda berani gaji, jika pemenang kuis ini dapat anda rekrut?”, begitu kira-kira pertanyaannya. Sang pengusaha itu menjawab, “Saya akan membayarnya dengan murah..”. “Mengapa?”, sang penanya pun terheran. “Apa yang menjadi kelebihan sang pemenang kuis, dengan mudahnya saya temui pada buku ensiklopedia di pinggir jalan. Dengan hal itu, maka saya akan membayar sang pemenang kuis sesuai dengan harga ensiklopedia di pinggir jalan tersebut”, pungkas sang pengusaha.

Berdasarkan kisah di atas, kekuatan terbesar seseorang bukan dilihat melalui seberapa banyak informasi yang telah dia ketahui. Kekuatan terbesar seseorang adalah pada bagaimana dia berpikir, dan akhirnya bagaimana dia memecahkan permasalahan yang dia hadapi. Ilustrasi yang sama seperti seorang balita yang dipersenjatai dengan ribuan senapan. Berapa pun banyaknya senapan, betapa pun baiknya kualitas senapan, semua akan percuma. Balita tidak bisa menggunakan satu pun senjata tersebut.

Problema yang ada pada dunia manusia sangat beragam. Jenisnya ratusan, ribuan, jutaan, atau bahkan lebih. Tidak mungkin manusia dapat menghadapi semua problema tersebut melalui pendalaman satu per satu hingga tataran detailnya. Pasti ada sebuah fasa, dimana manusia dapat menemukan sebuah benang merah antar semua masalah, kemudian manusia dapat menemukan akar permasalahan tersebut. Melalui akar permasalahan, manusia dapat mengembangkan solusi yang relevan dengan berbagai situasi permasalahan terkait.

Bagaimana bisa manusia menemukan pola pada setiap permasalahan yang ada? Itulah misterinya. Itu juga yang menjadi seni dalam berpikir.

Perihal pola, fenomena pola bukan hanya dapat ditemui pada permasalahan, namun pola juga bisa ditemui setiap jengkal kehidupan. Pola itu sendiri seolah-olah menjadi ‘ruh’ atas siklus kehidupan. Pola ini yang dapat dibaca oleh seorang dengan jalan pikiran yang indah.

Seperti pada kisah Konfusius atau Kong Fu Tse (551-475 SM), salah seorang filsuf terbesar dari peradaban China klasik. Beliau adalah mahaguru pada bidang politik, etika, keilmuan, hingga bermusik. Saya tekankan lagi: bermusik. Beliau berpendapat bahwa, terdapat hubungan yang erat antara musik, karakter manusia, etika, hingga akhirnya pada ranah politik. Hal itu dikisahkan ketika Konfusius masih muda. Konfusius muda suatu saat sedang mendalami sebuah lagu yang diajarkan oleh gurunya. Siang dan malam Konfusius memainkan, mendalami, dan menghayati lagu tersebut. Hingga suatu titik, Konfusius muda tiba-tiba terperangah sendiri, kemudian dia berkata pada gurunya, “Guru, aku sekarang tahu siapa pengarang lagu ini…”. “Pengarang lagu ini adalah seorang raja masa lampau, berkulit agak gelap dan berkepribadian seperti ini itu.. Raja ini memiliki masalah pada kerajaannya seperti ini dan itu…”.

Sang guru Konfusius muda pun terheran-heran sekaligus terkagum. Karena apa yang dikatakan Konfusius, adalah benar seperti apa adanya…

Jalan pikiran yang indah bukan?

=======================

Seperti dikatakan oleh Rene Descartes (1596-1650), “Cogito ergo sum“, dimana artinya: Aku berpikir maka aku ada. (I think, therefore I am).

Tinggal, sekarang bagaimana cara anda berpikir?

Bangsa Inferior

“Orang kita, kalau makan itu berkeringat. Tapi orang Jepang, justru ketika kerja yang berkeringat”.

“Di barat, sehari itu 24 jam. Tapi kalo di Indonesia, sehari itu 33 jam. Makanya jam orang Indonesia bisa lebih ngaret”

Dan biasanya, kelakar-kelakar tersebut diakhiri dengan tawa.

==============

Semenjak kecil, saya selalu berada di lingkungan yang berpikiran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa miskin, pemalas, dan rendahan. Kemiskinan dan kemalasan seolah-olah adalah sebuah garis tangan, bukan sebuah penyakit.

Seorang Doktor bidang engineering asal Aceh, Indonesia, yang sempat menjadi professional di Perusahaan Technology Provider asal Jerman, sempat bercerita perihal pengalaman yang tidak mengenakkan selama di negeri seberang. Acapkali ketika berpakaian lapangan (terkait peran di bidang engineering), driver taksi setempat mengira beliau adalah petugas kebersihan, karena terkait wajah melayunya. Fenomena yang lain: seringkali di bandara internasional setempat, orang-orang pendatang dari Indonesia lebih memilih untuk duduk di lantai. Bergerombol. Merasa bahwa mereka tidak pantas duduk di fasilitas umum disana.

Di dunia maya, situs komunitas http://www.9gag.com, sempat muncul foto (oleh pemuda dari US), “This asian, request a photo with me, out of nowhere…”. Dia berbagi pengalaman ketika berkunjung ke sebuah negara asia, tiba-tiba diminta foto bersama oleh orang setempat. Melihat foto yang di-share tersebut, mendadak saya ingat tempat kelahiran saya, Bali. Di Bali, wisatawan Indonesia sering secara random meminta foto bersama orang-orang bule. Foto itu pun menjadi kebanggaan sesampai dirumah. Layaknya berfoto bersama artis. Padahal, orang yang diajak foto bersama, bisa saja seorang kriminal atau copet dari negara asalnya.

Cerita-cerita di atas adalah potret nyata, bangsa Indonesia seperti mentakdirkan dirinya sebagai bangsa yang inferior.

=============

Di tengah inferioritas itu, muncul rasa malu di antara kita. Kita pun mencoba membangkitkan kebanggaan kita terhadap bangsa sendiri, sambil berkata, “Kita harus bangga dengan Indonesia, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah… Negara kepulauan yang indah.. Lahan yang subur nan permai..”. Saya mengerti sekali bahwa hal ini merupakan hal yang positif, mencoba membangkitkan semangat kepercayaan diri bangsa ini. Namun adakah relevansi antara kekayaan alam dengan kelahiran? Tidak dibutuhkan sebuah perjuangan untuk lahir di tempat yang subur dan permai. Lahir dan tumbuh besar di alam yang indah bukanlah capaian, tapi sebuah takdir dari Tuhan YME.

Di tengah inferioritas itu, muncul pergolakan di antara kita. Kita pun mencoba membangkitkan kebanggaan sembari berkata, “Di sana memang ada superman, batman, dragon ball, dsb. Tapi kita, punya superhero asli Indonesia yang kuat dan hebat. Otot Kawat, Tulang Besi. Kita punya Gatot Kaca..”. Yap, kita memiliki Gatot Kaca, makanya tokoh ini sering menjadi tokoh pahlawan yang diajarkan oleh orang-orang tua kita. Namun, tahu kah anda bahwa Gatot Kaca bukanlah tokoh dari Indonesia? Sempat saya membaca secara utuh kitab epik Mahabharata. Saya menemukan, bahwa Ghatotkacha (begitu nama aslinya), adalah putra dari Bima. Bima adalah satria terkuat di antara Pandawa Lima, karena Bima adalah putra dari Dewa Angin (seperti halnya Hanoman). Dalam hal ini, superhero yang kita banggakan, sebenarnya adalah karya sastra oleh Begawan Vyasa, begawan asal India di masa lampau.

Terakhir, kita pun mencoba membangkitkan kebanggaan sembari berkata, “Bangsa kita adalah bangsa yang besar, bangsa maritim, dan bayangkanlah, kita telah mengarungi lautan.. seperti nenek moyang kita, Sriwijaya..”.  Well, jika membanggakan nenek moyang, mereka pun juga punya bangsa pelaut, contohnya seperti Bangsa Viking. Atau pada abad pertengahan, mereka juga memiliki Spanyol, dimana armada lautnya menjelma sebagai armada yang paling ditakuti oleh dunia.tumblr_inline_ni4kff6Hsm1raxeeu

 

Meskipun misalnya nenek moyang kita adalah bangsa terhebat di dunia, namun apa kontribusi kita pada peradaban masa lampau? Pertanyaan itu juga patut disematkan ke bangsa lain yang membanggakan nenek moyang mereka. Lahir pada ras yang sempat menguasai dunia, bukanlah sebuah capaian, namun hanya sekedar takdir.

============

Orang Jepang, atau lebih tepatnya The Legendary Japanese, banyak saya temui di perusahaan saya sekarang.  Dan ketika masuk perusahaan ini, saya pun kaget, mereka sama saja seperti kita. Kita bisa bekerja lebih keras dari mereka, kita pun bisa lebih militan dari mereka. Orang Indonesia juga bisa bekerja lebih dari 24 jam sehari. Orang Indonesia juga bisa berfikir dan menganalisa lebih baik dari orang Jepang. Orang Australia, atau lebih tepatnya The Legendary Mining Nation, sempat saya temui di pekerjaan saya sebelumnya. Aktualnya, mereka pun secara intelejensi mirip seperti kita, mereka pun bisa salah.

Point saya pada tulisan ini hanya satu hal, berkaca. Indonesia memang saat ini terbelakang. Banyak bangsa lain yang saat ini lebih maju dan memiliki sejarah nenek moyang lebih baik dari Indonesia. Namun, ketidakmampuan itu bukan selayaknya direspon dengan mencoba mencari kebanggaan atas hal yang bukan perjuangan kita.

Ketidakmampuan itu selayaknya menjadi rasa malu, yang selanjutnya menjadi pecut untuk melangkah lebih maju. Selayaknya bangsa Korea yang mencoba mengejar ketertinggalan atas bangsa Jepang hingga saat ini.

Namun, semua ini adalah subjektivitas dari saya. Mungkin ada orang yang bisa mendapat motivasi dari kehebatan nenek moyang. Ada orang yang mendapat motivasi atas keberlimpahan alamnya. Ada juga yang mendapat motivasi dari hal-hal lain. Saya pun termasuk salah seorang yang sempat mendapatkan motivasi dan inspirasi dari membanggakan atas nenek moyang bangsa, seperti pada tulisan saya terdahulu. https://rezapebrianhardika.wordpress.com/2009/09/23/nenek-moyang-kita-pun-merupakan-orang-orang-hebat/.

Semua orang Indonesia, kepalanya berambut hitam, namun isinya pasti berbeda-beda.

===========

Disini, saya tidak memberikan gagasan soal kedaerahan, atau pembedaan atas suku dan ras. Karena, pada hakikatnya, kita semua adalah manusia yang sama. Sama-sama memiliki waktu 24 jam. Sama-sama membutuhkan makanan dan minuman. Dan sama-sama diberi kekuatan dan ketakutan.

Satu hal yang jelas, musuh kita sekarang bukanlah masalah kebangsaan, namun musuh kita sekarang adalah masalah inferioritas.

Mencuplik sebuah kisah dari buku kebijaksanaan China klasik,

Pada suatu hari datanglah seorang pelanggan ke toko gadai Hongren di kota Shaongxing untuk menggadaikan patung yang dibuat dari batu giok yang merupakan hasil karya luar biasa. Dikatakan bahwa patung tersebut berasal dari dinasti Han, 2000 tahun lalu, dan merupakan warisan keluarganya. Dia meminta 1000 ons perak. Pemilik toko gadai sedang keluar saat tersebut, sehingga yang melayani adalah karyawannya, dan dia memberikan jumlah yang diminta oleh pelanggan.

Ketika pemiliki toko gadai kembali, betapa kagetnya dia melihat tokonya mengeluarkan uang sebegitu besarnya, terlebih setelah diamati patung tersebut adalah patung palsu. Pemilik toko pun meminta ganti rugi kepada karyawannya.

Karyawannya bingung, dan akhirnya berkonsultasi pada temannya yang bijaksana, Xu Wenchang yang terkenal bijaksana dan banyak akal. Akhirnya mereka pun menyusun sebuah rencana.

Image

Beberapa hari kemudian pemiliki toko gadai mengadakan undangan kepada seluruh masyarakat di kota untuk memamerkan patung giok berumur 2000 tahun. Banyak warga dan pembesar kota datang menghadiri. Mereka makan dan minum jamuan yang telah disediakan. Tepat pada acara puncak, pemilik toko mengumumkan perihal keberadaan patung tersebut. Tak lama dia mengeluarkan patung tersebut, dan orang mengamatinya satu per satu. Semua hadirin pun terpana dengan patung tersebut. Ketika pemilik toko berjalan, di tengah-tengah dia terjatuh, sehingga patung tersebut pecah. Hal ini pun menghebohkan para hadirin, hingga beritanya pun sampai pada seantero kota.

Beberapa hari kemudian orang yang menggadaikan patung tersebut kembali ke toko gadai, sambil mengatakan dia ingin menebus patungnya. Karyawan yang menerima kemudian menerima 1000 ons perak, dan masuk ke ruangan. Setelah itu dia keluar sembari membawa patung yang digadaikan oleh pelanggan tersebut. Pelanggan tersebut terdiam dan pucat, terpaksa dia mengambil kembali barangnya.

Dia tidak mengetahui bahwa patung yang pecah itu adlaah barang palsu juga. Semua itu adalah ide dari Xu Wenchang. Dengan adanya kabar patung pecah, diharapkan si pelanggan akan datang kembali untuk menuntut uang lebih besar akibat barang gadaiannya dirusak oleh toko.

Sumber: Michael C. Tang, Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik

Bak kita hanya mampir tuk mencicip kenikmatan segelas kopi. Segala yang ada di sini, hanyalah pergiliran. Tanah, air, emas, udara, semua diawali oleh mereka para pendahulu, ditinggalkan, dan berakhir kepada tangan para pewaris di masa depan.

Manusia hidup, makan, mati dan terurai, hingga terserap menjadi sebuah saripati tanah, menjulang melalui tunas, yang tumbuh hingga menarik para hewan gembala, berkah bagi para petani lapar yang ingin tumbuh berkembang dengan materi hewani.

Sadarkah, tubuh kita saat ini pun juga bisa jadi terdiri dari substansi saripati tubuh orang-orang yang telah hidup pada masa lampau?

Sombonglah, Kawan, jika engkau merasa dapat menggenggam dunia di kepalan tanganmu.

Pernahkah anda perhatikan?

Cobalah anda menyanyikan lagu yang sedang hits ketika anda bersama dengan teman-teman anda, entah ketika sedang bekerja, bermain, belajar, dan sebagainya,. Nyanyikanlah lagu tersebut berulang-ulang dengan penuh PERCAYA DIRI dan penghayatan.

Coba perhatikan. Terkadang setelah anda bernyanyi, salah seorang teman anda akan ikut menyanyi lagu yang anda nyanyikan. Entah dia menyanyikan dari awal, ataupun sekedar meneruskan lagu yang anda nyanyikan.

Pernahkah anda perhatikan?

Ketika anda mengendarai sepeda motor dan berhenti pada lampu merah, anda tentu saja diwajibkan untuk berhenti di belakang garis pemberhentian untuk menunggu lampu hijau.

Namun coba anda perhatikan, sekalinya anda mencoba menerobos garis tersebut, dan menunggu lampu hijau di depan garis pemberhentian, maka banyak pengendara motor lain yang akan mengikuti anda, menerobos garis pemberhentian dan berhenti di belakang maupun di samping anda.

Padahal sebelum anda menerobos, semua pengendara tetap berada di belakang garis pemberhentian.


***

Percaya atau tidak, seringkali fenomena di atas terjadi dengan sendirinya.

Fenomena itu merupakan bukti bahwa cukup dengan percaya diri, maka anda dapat membuat orang lain mengikuti anda, entah anda benar maupun salah.

Tentu saja hal itu dapat terjadi. Dengan bersikap percaya diri, secara tidak langsung anda telah meyakinkan orang lain untuk percaya kepada anda. Dengan bersikap percaya diri, secara tak langsung anda telah menunjukkan kekuatan anda kepada orang lain.

Namun bagaimana dengan sebaliknya?

Walaupun anda benar, bila anda tidak percaya diri, orang lain akan menganggap anda salah, karena mereka tidak percaya kepada anda.

“Bagaimana anda berharap orang lain percaya kepada anda? bila anda sendiri pun tidak percaya kepada diri anda sendiri?”

Bagaimana anda berharap orang lain percaya kepada anda? bila anda sendiri pun tidak percaya kepada diri anda sendiri?

***

Dengan bersikap percaya diri, mari kita tunjukkan kekuatan kita!

Ketika masih SD saya dan teman-teman saya sering ditanya mengenai cita-cita, kami pun menjawab sekenanya. Saya menjawab ingi menjadi presiden, ada yang ingin mejadi dokter, ada yang ingin menjadi polisi, dan sebagainya. Semua menjawab dengan cita-cita yang tinggi.

Yang jelas,semenjak kecil saya tidak mendengar ada seorang orang yang sedari kecil bercita-cita menjadi tukang tambal ban, atau kuli bangunan, atau pembantu, atau pekerjaan yang sejajar dengan itu.

Beranjak SMP, hanya beberapa teman saja yang mencoba untuk melanjutkan ke SMP negeri, kebanyakan hanya pasrah pada SMP swasta di pinggir kota yang notabenenya sekolah pinggiran. Beberapa teman SD yang kini satu SMP kerap berjalan beriringan bersama saya. Ketika ditanya mengenai ingin apa setelah SMP, teman-teman saya pun menjawab dengan semangat, ada yang ingin ke SMK karena tertarik dengan otomotif, ada pula yang ingin melanjutkan ke SMA favorit, sama seperti saya. Bahkan kami sempat berjanji untuk saling berlomba menuju SMA favorit tersebut.

Saat menuju SMA tiba, rupanya kebanyakan teman saya melanjutkan di  SMA swasta yang berada di pinggir kota. Sesekali saya bertemu mereka. Banyak dari mereka yang masih memiliki senyum akan harapan, namun ada pula yang dari wajahnya sudah terlihat pasrah. Teman-teman SD saya bahkan ada pula yang tidak melanjutkan ke SMA, dia menganggur. Bahkan ada pula yang terlibat  kasus narkoba dan kriminalitas. (saya pun menghela nafas)

Selepas SMA, menjelang berangkat ke bandung, saya sempat bertemu lagi dengan teman-teman lama saya. Dan…. kebanyakan dari mereka tidak tahu mau kemana setelah SMA. Kebanyakan mencoba membantu orang tua bekerja. Ada pula yang telah menikah di usia belia. Ada pula yang masih menganggur. Banyak yang tidak berani melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi karena takut akan biaya serta persaingan.

***

Entah ini potret degradasi impian yang terjadi di setiap anak Indonesia ataukah hanya terjadi pada teman-teman saya. Tawa harapan dan cita-cita yang telah dipupuk sejak kecil lama-lama semakin menipis digerus oleh himpitan ekonomi. Cita-cita yang terucap di masa kecil hanyalah sebuah kenangan indah di masa kecil yang hanya membuat simpulan senyum, tidak lebih.

Mengapa hal ini bisa terjadi pada bangsa ini?